Memilih Kata yang Tidak Berlebihan
Kalimat yang lemah jarang rusak karena satu kata yang salah. Ia rusak karena terlalu banyak kata yang sebenarnya tidak perlu. Penulis menambahkan kata keterangan, penguat, dan sinonim untuk memastikan maksudnya sampai. Yang terjadi justru sebaliknya: maksudnya tenggelam.
Kata yang menambah, kata yang mengulang
Setiap kata dalam kalimat seharusnya membawa sesuatu yang belum dibawa kata lain. Kalau sebuah kata hanya mengulang makna kata sebelumnya, ia mengambil ruang tanpa memberi isi. Contohnya "sangat penting sekali", "naik ke atas", atau "mundur ke belakang". Kata-kata seperti ini terasa wajar dalam percakapan, tetapi dalam tulisan ia memperlambat pembaca.
Uji sederhana: hapus satu kata, lalu baca ulang. Kalau maknanya tidak berubah, kata itu tidak perlu. Kalau maknanya berubah sedikit, pertimbangkan apakah perubahan itu memang penting.
Hati-hati pada kata keterangan
Kata keterangan sering dipakai untuk menutupi kata kerja yang lemah. "Berjalan dengan cepat" bisa menjadi "berlari". "Mengatakan dengan marah" bisa menjadi "membentak", kalau memang itu yang terjadi. Kata kerja yang tepat menghilangkan kebutuhan akan penjelasan tambahan.
Namun bukan berarti semua kata keterangan harus dibuang. Kata seperti "hampir", "sering", dan "hanya" kadang membawa nuansa yang tidak bisa digantikan kata kerja. Yang perlu dihindari adalah kata keterangan yang dipakai karena penulis belum menemukan kata kerja yang lebih tepat.
Abstraksi yang tidak mendarat
Kata seperti "kualitas", "inovasi", "pengembangan", dan "optimalisasi" terasa resmi, tetapi sering tidak menunjuk apa pun. Pembaca bisa membaca satu paragraf penuh kata-kata itu tanpa bisa membayangkan satu peristiwa konkret. Tulisan yang baik berpijak pada hal yang bisa dilihat, didengar, atau dihitung.
Kalau Anda menemukan kalimat abstrak, tanyakan: apa contohnya? Siapa yang melakukannya? Kapan? Di mana? Jawaban atas pertanyaan itu biasanya menghasilkan kalimat yang lebih jelas, bahkan lebih pendek.
Satu kata untuk satu maksud
Bahasa Indonesia punya banyak sinonim, tetapi sinonim jarang benar-benar sama. "Melihat", "menonton", "memandang", dan "mengamati" membawa jarak dan durasi yang berbeda. Memilih salah satunya berarti memilih cara pembaca membayangkan adegan.
Karena itu, jangan memilih kata hanya karena terdengar lebih bagus. Pilih kata yang paling tepat menggambarkan apa yang ingin Anda sampaikan. Kalau ragu, pilih kata yang paling sederhana. Kesederhanaan bukan tanda penulis kurang kosakata, melainkan tanda penulis tahu kata mana yang bekerja.
Menguji dengan membaca keras
Membaca keras memperlihatkan masalah yang tidak terlihat saat membaca dalam hati. Kalimat yang terlalu panjang akan membuat Anda kehabisan napas. Kata yang berlebihan akan terasa mengulang. Irama yang datar akan terdengar seperti daftar.
Bacalah satu paragraf dengan suara biasa, bukan seperti pembaca berita. Di tempat Anda merasa perlu berhenti untuk mengambil napas, mungkin perlu tanda titik. Di tempat Anda merasa janggal, mungkin ada kata yang salah atau urutan yang keliru.
Merapikan tanpa membuat kaku
Tulisan yang hemat bukan tulisan yang dingin. Kalimat pendek bisa terasa hangat kalau kata-katanya tepat. Sebaliknya, kalimat panjang bisa terasa kosong kalau isinya sedikit. Yang menentukan bukan panjangnya, melainkan seberapa banyak kata yang benar-benar bekerja.
Setelah menyunting, baca ulang satu kali tanpa mengubah apa pun. Kalau Anda merasa tulisan itu lebih mudah diikuti dan tidak kehilangan suara, penyuntingan berhasil. Kalau tulisan terasa seperti laporan mesin, mungkin Anda memotong terlalu banyak dan perlu mengembalikan beberapa kata yang membawa nada.
Posting Komentar